Bisakah Wakaf Kesehatan Tanggulangi Covid19?

Mustafa Assiba’i dalam bukunya Min Rawai’ Hadharatina menyebutkan bahwa salah satu jenis wakaf yang utama pada masa kejayaan peradaban Islam adalah wakaf kesehatan yaitu rumah sakit yang disebut dengan Bimaristan dan lembaga pendidikan kedokteran. Bimaristan tidak hanya berfungsi untuk mengobati pasien tetapi berfungsi juga sebagai lembaga pendidikan kedokteran.

Bimaristan wakaf pertama dibangun oleh Khalifah Umayyah al-Walid bin Abdul Malik di Damaskus tahun 88 H yang mempekerjakan para dokter dan perawat untuk memberikan pengobatan dan perawatan kepada pasien. Selanjutnya Ahmad bin Thulun membangun Bimaristan wakaf di Mesir yang menghabiskan dana 60 ribu dinar. Setiap hari Jumat ia mendatangi Bimaristan yang dibangunnya untuk memeriksa kondisi pasien.

Berikutnya Nuruddin Zanki membangun Bimaristan wakaf di Damaskus. Ibnu Jabir sang penjelajah berkata Nuruddin Zanki memiliki daftar pasien dan memberikan biaya yang diperlukan untuk obat-obatan, makanan dan lain-lain, setiap hari dokter memeriksa pasien dan menyiapkan obat-obatan. Ibnu Katsir menambahkan bahwa Nuruddin Zanki mewakafkan Bimaristan hanya untuk fakir miskin, tidak termasuk orang kaya kecuali tidak ditemukan obat yang menyembuhkan penyakit yang diderita oleh orang kaya, maka orang kaya itu boleh berobat dan dirawat di Bimarstan tersebut.

Bimaristan wakaf lainnya adalah Bimaristan al-Mansyuri yang disebut dengan Bimaristan Qalawun yang dibangun oleh Raja al-Mansyur Saefuddin Qalawun di Cairo tahun 673 H. Untuk biaya operasionalnya, ia mewakafkan properti yang menghasilkan seribu dirham setiap tahunnya. Bimaristan ini dilengkapi dengan masjid, sekolah, dan perpustakaan, semua orang dilayani secara gratis bahkan pasien yang sembuh dan pulang diberikan pakaian dan uang yang cukup sampai mampu bekerja, yang meninggal diberikan pelayanan secara gratis dari mulai memandikan, mengkafani, dan menguburkan.

Bimaristan Qalawun mempekerjakan dokter dengan beragam spesialisasi, perawat dan tenaga non medis untuk melayani pasien, membersihkan kamar pasien, dan mencucikan pakaiannya. Bahkan pelayanan yang diberikan tidak hanya untuk pasien yang dirawat di Bimaristan, namun mereka yang sakit di rumah diberikan juga pelayanan kesehatan, obat dan makanan.

Ada juga Bimaristan Adhudi yang dibangun oleh Daulah bin Buwaih Tahun 371 H di Baghdad yang menghabiskan dana yang sangat banyak. Bimaristan ini mempekerjakan 24 dokter, memiliki fasilitas pendukung seperti perpustakaan, apotek, dapur, dan gudang.

Bimaristan wakaf lainnya dibangun oleh Harun al-Rasyid di Baghdad. Perhatiannya yang besar pada kesehatan dan fasilitas pelayanannya, mendorongnya untuk mewakafkan harta bendanya untuk membangun kota terpadu. Ibnu Jabir menyebutkan bahwa di Baghdad terdapat kota terpadu yang megah, di dalamnya ada rumah sakit, pasar, rumah-rumah, taman-taman yang indah sebagai wakaf produktif yang hasilnya untuk membiayai operasional atau kebutuhan rumah sakit, pasien, dokter, apoteker, dan mahasiswa kedokteran.

Di Marrakesh Maroko, Yakub al-Mansyur membangun Bimaristan wakaf di lokasi yang sangat strategis, semua keperluan pasien disediakan seperti dokter, apotek, obat-obatan, makanan, pakaian, dan sebagainya.

Masih banyak Bimaristan wakaf yang ada di negeri-negeri Islam lainnya seperti di Andalusia, Turki Utsmani yang memiliki peran besar dalam kesehatan khususnya kesehatan fakir miskin.

Setiap Bimaristan memiliki aula yang besar untuk perkuliahan kedokteran yang mengajarkan ilmu kedokteran, perpustakaan yang memiliki banyak koleksi buku kedokteran dan buku-buku lainnya yang diperlukan para dokter dan mahasiswa. Sebagai contoh di Bimaristan Ibnu Thulun di Cairo memiliki perpustakaan dengan koleksi buku lebih dari 100 ribu buku.

Kejayaan Bimaristan wakaf pada masa lalu, mendorong banyak pihak di berbagai negara untuk menggerakkan kembali pengembangan dan pengelolaan wakaf kesehatan termasuk di Indonesia.

Di Kuwait, untuk mewujudkan peran wakaf dalam bidang kesehatan, antara lain dibangun Pusat Kuwait untuk Penderita Autis oleh Kuwait Awqaf Public Foundation (KAPF). Para penderita autis selain diberikan perawatan dan pengobatan, diberikan juga pendidikan dan pengajaran. Masyarakat juga diedukasi tentang pentingnya memberikan perhatian terhadap penyakit autis sebagai salah satu penyakit yang tersebar luas di dunia.

Di Saudi Arabia beberapa lembaga filantropi membangun wakaf kesehatan, bahkan ada lembaga filantopi yang kegiatannya khusus wakaf kesehatan.

Sebagai contoh Jamiyyatul Iman Liri’ayati Mardha Sarathan al-Khairiyyah (Lembaga Kebajikan al-Iman untuk Perawatan Penderita Kanker) di Jeddah yang membangun umah Sakit Wakaf untuk Pengobatan Kanker di atas tanah wakaf seluas 4.700 M2 dengan bangunan 14 lantai. Rumah Sakit wakaf ini selain memberikan layanan kesehatan, juga sebagai tempat rehabilitasi sosial dan psikologi bagi penderita kanker. Yang menarik dari Rumah Sakit ini, ada area komersial sebagai wakaf produktif yang hasilnya untuk membiayai operasional rumah sakit yang memrikan layanan secara gratis.

Di Mesir, wakaf kesehatan dipraktikkan secara baik antara lain melalui pembangunan Rumah Sakit Wakaf Kanker untuk Anak di Kairo. Donatur wakaf dapat memilih paket wakaf yang ditawarkan dengan nilai tertentu yang bisa dibayarkan secara tunai atau dicicil selama dua tahun, atau berwakaf dengan nilai berapapun di mana pokok wakaf jenis ini diinvestasikan pada produk bank syariah. Hasil dari investasi wakaf uang tersebut dimanfaatkan untuk biaya operasional rumah sakit yang memberikan pelayanan kesehatan secara gratis untuk anak-anak Mesir dan negara-negara Arab.

Di Pakistan, lembaga filantropi Hamdard Foundation yang dibentuk untuk melaksanakan kegiatan filantropi dari perusahaan wakaf Hamdard telah membangun kota yang diberi nama Madinat al-Hikmah. Kota ini dibangun di atas lahan seluas 350 hektar di dekat Karachi, di mana di dalam kota ini antara lain terdapat rumah sakit yang memberikan layanan kesehatan secara gratis kepada penduduk di 38 desa di sekitar Madinat al-Hikmah. Sebelum ada rumah sakit tersebut, penduduk desa-desa tersebut mengalami kekurangan fasilitas kesehatan.

Di Turki, wakaf kesehatan diwujudkan antara lain dalam bentuk pendidikan seperti Bezmialem Universitas Wakaf. Universitas ini didirikan tahun 2010 oleh Direktorat Jenderal Wakaf Turki, dan merupakan peralihan dari Rumah Sakit Wakaf Gureba yang dibangun oleh Sultan Bezmialem untuk memberikan layanan kesehatan kepada fakir miskin.
Universitas Bezmialem memiliki Fakultas Kedokteran, Farmasi, Ilmu Kesehatan, dan Rumah Sakit. Visinya antara lain menjadi Universitas terkemuka dalam pelayanan pendidikan dan kesehatan. Universitas ini memberikan beasiswa kepada mahasiswanya, dengan tiga kategori yaitu beasiswa 100%, beasiswa 50%, dan beasiswa 25%.

Di Malaysia tepatnya di Johor, wakaf kesehatan dikelola oleh perusahaan wakaf yaitu Waqaf An-Nur Corporation Berhad (WANCorp) yang salah satu usahanya di bidang kesehatan.

Usahanya ada yang berbentuk sosial dan ada yang berbentuk bisnis. Untuk yang sosial dijalankan oleh Klinik Waqaf An-Nur dengan biaya berobat yang murah, dan untuk yang bisnis dijalankan oleh KPJ Healthcare Berhad.

Klinik Waqaf An-Nur didirikan tahun 1998 di Johor. Sampai tahun 2018 telah berdiri 24 Klinik Waqaf An-Nur di seluruh Malaysia, yang memberikan pelayanan kesehatan kepada semua masyarakat dari berbagai negara dan agama. Pasien yang berobat dilayani oleh dokter spesialis dan hanya dikenakan biaya RM5 (Lima Ringgit Malaysia) sudah termasuk dengan obat-obatan. Sampai 31 Desember 2018, pasein yang telah mendapat pelayanan kesehatan sebanyak 1.728.587 pasien, dan dari jumlah tersebut sebanyak 150.282 pasien bukan beragama Islam.

KPJ Healthcare Berhad mulai beroperasi tahun 1981, sampai tahun 2018 telah memiliki 26 rumah sakit, 4 rumah sakit berda di luar negeri yaitu 2 Rumah Sakit di Indonesia yaitu Rumah Sakit Medika BSD dan Rumah Sakit Media Permata Hijau, 1 Rumah Sakit di Bangladesh, dan 1 Rumah Sakit di Thailand. Tahun 2018 memeperoleh pendapatan sebanyak RM3,3 miliar dengan keuntungan sebelum zakat dan pajak sebanyak RM266,5 juta, dan keuntungan bersih sebanyak RM186,2 juta.

Hasil keuntungan tersebut, sebagiannya digunakan untuk membiayai Klinik Waqaf An-Nur, dan beasiswa beasiswa pendidikan di KPJ Healthcare University College dan Malaysian College of Hospitality and Management, sebagai anak perusahaan yang dimiliki penuh oleh KPJ Healthcare Berhad.

Di Indonesia, sebagaimana negara-negara lain, wakaf kesehatan telah dilaksanakan dan terus berkembang sampai sekarang. Di Semarang berdiri Rumah Sakit Islam Sultan Agung yang berada di bawah Yayasan Badan Wakaf Sultan Agung.

Bermula dari Health Centre lalu Medical Centre dengan lingkup layanan kecil poliklinik umum, poliklinik kesehatan ibu dan anak dan keluarga berencana di tahun 1971, kemudian diresmikan sebagai Rumah Sakit Umum pada tanggal 23 Oktober 1975, dan di tahun 2011 ditetapkan menjadi rumah sakit kelas B serta menjadi Rumah Sakit Pendidikan tempat mendidik calon dokter umum mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sultan Agung yang juga berada di bawah Yayasan Badan Wakaf Sultan Agung.

Seiring dengan meningkatnya kesadaran filantropi, gerakan wakaf kesehatan semakin berkembang baik. Tahun 2001 Dompet Dhuafa mendirikan balai pengobatan gratis yang bernama Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC-DD). Dalam perkembangannya, untuk memberikan pelayanan kesehatan lanjutan seperti konsultasi dokter spesialis, rawat inap dan tindakan operasi, maka pada tahun 2012 melalui semangat zakat dan wakaf didirkan Rumah Sakit Rumah Sehat Terpadu Dompet Dhuafa (RST) di Parung Bogor.

Berawal dari RST ini, Dompet Dhuafa mengembangkan rumah sakit wakaf lainnya antara lain Rumah Sakit AKA MEDIKA Sri Bwahono, Rumah Sakit Lancang Kuning Riau, Rumah Sakit Sayyidah Jakarta Timur, dan Rumah Sakit Mata Achmad Wardi BWI-DD di Serang.

Banyak lembaga filantropi lain yang kemudian mengembangkan wakaf kesehatan dengan kombinasi dana zakat dan wakaf. Pada umumnya, untuk gedung dan alat kesehatan berasal dari wakaf, sedangkan untuk biaya operasionalnya menggunakan dana zakat khususnya bagi pasien dhuafa.

Selain melayani pasien dhuafa yang digratiskan, melayani juga pasien umum yang berbayar atau memiliki asuransi atau jaminan kesehatan seperti BPJS Kesehatan. Namun tetap ada yang mengkhususkan pelayanannya bagi dhuafa seperti Dompet Dhuafa dengan Klinik Gratis untuk Dhuafa dan Sinergi Foundation dengan Rumah Bersalin Cuma-Cuma (RBC).

Perkembangan wakaf kesehatan memang sudah baik, tapi tetap perlu ditingkatkan untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat, terutama yang murni berbasis wakaf. Tantangan sekarang adalah apakah wakaf mampu memberikan sumbangsih mengurangi atau mencegah wabah Covid19?

Sosialisasi atau literasi wakaf kesehatan mutlak dilakukan untuk membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya wakaf kesehatan, sebagaimana pentingnya wakaf dalam bidang lainnya. Jika pun pengembangan wakaf kesehatan memiliki tujuan bisnis seperti yang dilakukan oleh KPJ Healthcare Berhad, maka hasil keuntungannya disalurkan untuk memenuhi kebutuhan kesehatan masyarakat dhuafa dan untuk tujuan wakaf lainnya. Wakaf hebat, masyarakat sehat, negara kuat.

Disadur dari tulisan Dr. Fahruroji, Lc.MA, “Praktik Wakaf Kesehatan”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close